Menabung tanpa target yang jelas sering kali membuat upaya pengelolaan keuangan menjadi tidak terarah dan sulit dipertahankan. Banyak individu telah memiliki niat menabung, namun gagal melakukannya secara konsisten karena target yang ditetapkan terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan kemampuan finansial. Oleh karena itu, menentukan target tabungan yang realistis merupakan langkah penting dalam literasi keuangan agar tujuan finansial dapat dicapai secara terukur dan berkelanjutan.
Pentingnya Menetapkan Target Tabungan
Target tabungan berfungsi sebagai arah dan motivasi dalam pengelolaan keuangan. Dengan adanya target yang jelas, seseorang dapat mengetahui berapa jumlah dana yang harus disisihkan dan dalam jangka waktu berapa lama. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa perencanaan keuangan yang baik harus diawali dengan penetapan tujuan yang jelas dan sesuai kemampuan agar tidak menimbulkan tekanan finansial.
Tanpa target yang terukur, menabung sering kali hanya bergantung pada sisa uang, sehingga tidak konsisten dan sulit berkembang.
Memahami Kondisi Keuangan Sebelum Menentukan Target
Langkah awal dalam menentukan target tabungan yang realistis adalah memahami kondisi keuangan secara menyeluruh, meliputi:
Total pendapatan rutin dan tidak rutin
Pengeluaran wajib bulanan
Kewajiban cicilan atau utang
Kebutuhan darurat dan prioritas keluarga
Dengan memahami kondisi keuangan aktual, seseorang dapat menentukan target tabungan yang tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok dan kewajiban lainnya. Pendekatan ini membantu mencegah target yang terlalu ambisius dan berpotensi gagal di tengah jalan.
Menyesuaikan Target dengan Tujuan Keuangan
Target tabungan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Contohnya:
Jangka pendek: dana darurat awal, kebutuhan pendidikan tahunan, atau rencana liburan
Jangka menengah: pembelian kendaraan, modal usaha
Jangka panjang: pendidikan anak, kepemilikan rumah, dana pensiun
Setiap tujuan memiliki karakteristik waktu dan nominal yang berbeda, sehingga memerlukan perhitungan target tabungan yang berbeda pula.
Menentukan Nominal yang Realistis dan Konsisten
Target tabungan yang realistis bukan ditentukan oleh besarnya nominal, melainkan oleh kemampuan untuk menjalankannya secara konsisten. Banyak pakar keuangan merekomendasikan menyisihkan sekitar 10–20% dari pendapatan sebagai tabungan, namun angka ini tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Lebih baik menabung dengan nominal kecil tetapi rutin, dibandingkan menetapkan target besar yang sulit dipenuhi dan akhirnya berhenti menabung sama sekali.
Membagi Target Besar Menjadi Target Kecil
Agar target tabungan terasa lebih ringan dan mudah dicapai, target besar sebaiknya dibagi menjadi target yang lebih kecil. Misalnya, target menabung Rp6 juta dalam satu tahun dapat dibagi menjadi Rp500 ribu per bulan atau sekitar Rp125 ribu per minggu.
Pendekatan ini membuat proses menabung terasa lebih terjangkau, sekaligus memberikan kepuasan psikologis saat target-target kecil berhasil dicapai.
Fleksibilitas dalam Penyesuaian Target
Target tabungan tidak bersifat kaku dan dapat disesuaikan apabila terjadi perubahan kondisi keuangan, seperti kenaikan atau penurunan pendapatan. Fleksibilitas ini penting agar menabung tetap dapat dilakukan tanpa menimbulkan tekanan finansial berlebihan.
Evaluasi target tabungan secara berkala membantu memastikan bahwa rencana keuangan tetap relevan dan realistis dengan kondisi terkini.
Menentukan target tabungan yang realistis merupakan bagian penting dari perencanaan keuangan yang sehat. Dengan memahami kondisi keuangan, menyesuaikan target dengan tujuan, menetapkan nominal yang dapat dijalankan secara konsisten, serta melakukan evaluasi berkala, menabung dapat menjadi kebiasaan yang efektif dan berkelanjutan. Target yang realistis bukan hanya meningkatkan peluang keberhasilan, tetapi juga menjaga motivasi dalam mengelola keuangan jangka panjang.
Melalui edukasi keuangan yang berkelanjutan, PT BPR Putera Dana terus mendorong masyarakat agar mampu mengelola keuangan secara bijak, termasuk menetapkan target tabungan yang realistis sesuai kemampuan dan tujuan finansial. Upaya literasi dan inklusi keuangan ini dilaksanakan sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas finansial.