Istilah “Gen Z boros” kerap muncul di media dan ruang diskusi. Nongkrong di kafe, beli kopi kekinian, atau langganan layanan digital sering jadi contoh yang dikutip. Padahal, jika dilihat lebih jernih, persoalan finansial yang dihadapi generasi ini bukan sekadar soal pilihan konsumsi — melainkan tekanan biaya hidup yang meningkat dan realitas ekonomi yang berubah.
Biaya Hidup Meningkat, Realitas Kerja Lebih Berat
Gen Z memasuki dunia kerja ketika biaya kebutuhan pokok terus menanjak, sementara pertumbuhan gaji tidak selalu mengikuti laju inflasi. Banyak pekerja muda yang gajinya habis untuk kebutuhan dasar, terutama jika tinggal di kota besar dengan biaya sewa tempat tinggal yang tinggi. Hal ini membuat kebutuhan sehari-hari seperti makan, transportasi, dan tagihan rutin cenderung menyerap sebagian besar pendapatan.
Fenomena ini sejalan dengan hasil survei global dari Deloitte yang menunjukkan bahwa biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran utama Gen Z di berbagai negara, bahkan di atas isu lain seperti kesehatan mental dan pengangguran. Sumber : deloitte.com
Label “Boros” Itu Berat
Perilaku konsumen Gen Z sering dipandang konsumtif, padahal banyak keputusan finansial dibuat sebagai respons terhadap kebutuhan real waktu dan efisiensi. Misalnya, memilih makanan siap saji atau transportasi online bukan sekadar gaya hidup, tetapi kadang pilihan paling praktis untuk bergerak di tengah ritme kerja yang padat.
Selain itu, masih banyak Gen Z yang belum punya dana darurat cukup karena pengeluaran pokok sudah sangat tinggi dibanding pendapatan mereka. Itu membuat menabung menjadi lebih sulit dan perencanaan finansial panjang ikut terdampak.
Literasi & Inklusi Keuangan Masih Perlu Dibenahi
Walaupun masih banyak tantangan, akses terhadap layanan keuangan dan literasi juga mengalami perkembangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia meningkat menjadi lebih dari 66% pada 2025. Sumber : kumparan.com
Namun, literasi yang lebih tinggi belum otomatis menjamin kemampuan mengelola keuangan secara optimal karena konteks ekonomi yang menekan.
Data dari OJK dan BPS yang menjadi dasar SNLIK menunjukkan bahwa meski inklusi semakin luas, kemampuan praktis dalam mengatur arus kas harian dan perencanaan finansial masih perlu diperkuat. Sumber : bps.go.id
Peluang, Bukan Sekadar Kritik
Memahami Gen Z bukan hanya soal mengkritik perilaku belanja mereka, tapi juga memahami konteks ekonomi yang membentuk perilaku itu. Untuk itu, edukasi literasi keuangan yang tepat perlu terus didorong — terutama yang relevan dengan realitas kehidupan Gen Z saat ini.
Selain itu, kebijakan yang mendukung seperti upah layak, akses perumahan terjangkau, dan fasilitas transportasi publik yang efisien juga penting agar tekanan biaya hidup tidak terus membebani generasi ini.
Kesimpulan
Gen Z tidak “boros” tanpa alasan — mereka hidup di tengah biaya hidup yang makin tinggi dan kondisi ekonomi yang menuntut adaptasi cepat. Mereka bukan generasi yang berlebihan, melainkan generasi yang sedang menavigasi tantangan finansial dunia modern.
Sumber Referensi & Tautan
🔗 Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (2025) — SNLIK mencatat indeks literasi keuangan Indonesia meningkat
🔗 SNLIK 2024 Indeks Literasi & Inklusi Keuangan Indonesia — data historis Anda bisa lihat detailnya di artikel ini
🔗 Tren Keuangan Gen Z — artikel yang membahas pola cashless dan tantangan cashflow finansial Gen Z
🔗 Deloitte’s 2024 Gen Z and Millennial Survey — laporan global yang menunjukkan kekhawatiran Gen Z terhadap biaya hidup
🔗 Isu biaya hidup di Gen Z — pemeriksaan statistik kekhawatiran biaya hidup vs isu lain